Menelusuri Keraton Kesepuhan Cirebon Dan Kisah Sejarah di Balik Bangunannya

Foto:Very Barus

Setelah mengarungi Taman “Kera” Plangon, Gue pun kembali menjelajahi kota Cirebon ke destinasi lainnya. Kali ini, gue menyambangi Keraton kesepuhan yang berada di jalan kesepuhan no.43. Cirebon. Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Bahkan, setiap sudut arsitek bangunan di Keraton memiliki makna. Ya, mungkin, Keraton kesepuhan merupakan salah satu keraton yang paling bersejarah disini.


Rasa penasaran gue pun semakin memuncak ketika mobil yang gue tumpangi bersama teman-teman tiba di depan pekarangan parkir Keraton. Sebelum masuk, gue harus membeli tiket masuk sebesar Rp. 25.000,- Setelah itu, gue mulai menginjakkan kaki ke pekarangan Keraton yang disambut oleh pria-pria berpakaian adat Jawa lengkap dengan balngkonnya. Ternyata mereka adalah guide yang siap memandu setiap pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tentang Keraton kesepuhan.  Gue pun tidak melewatkan kesempatan itu. Semakin banyak bertanya, semakin banyak yang tidak diketahui.
Sambil memasuki pekarangan, pria berblangkon mulai mengisahkan sejarah Keraton Kesepuhan.  
Foto:Very Barus



Menurut si guide, Keraton kesepuhan didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada masa perkembangan islam sekitar tahun 1529. Pada awalnya bangunan Keraton Kasepuhan merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati yang merupakan keraton tertua di Cirebon. Keraton Pakungwati yang terletak di sebalah timur Keraton Kasepuhan, dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (Putera Raja Pajajaran) pada tahun 1452, bersamaan dengan pembangunan Tajug Pejlagrahan yang berada di sebelah timurnya.
Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan. Keraton Kasepuhan adalah kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri.



Pada tahun 1969, karena konflik internal Kesultanan Cirebon dibagi dua menjadi Kesultanan Kanoman dan Kasepuhan. Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya dan bergelar Sultan Anom I, sementara Kesultanan Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Martawijaya yang bergelar Sultan Sepuh I. Kedua sultan ini kakak beradik, dan masing-masing menempati Keraton sendiri.
Foto:Very Barus

Tentang Arsitektur Bangunan

Saat kami semakin masuk ke dalam, terlihat di depannya ada alun-alun. Pada zamannya, alun-alun itu diberi nama Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Alun-alun ini juga sering dipakai sebagai pentas perayaan Negara lalu juga sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Sedangkan di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar — sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya. Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir.


foto:Very Barus

Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.

Bangunan Pancaratna berada di kiri depan kompleks arah barat berdenah persegi panjang dengan ukuran 8 x 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampong yang diterima oleh Demang atau Wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar terali besi.



Bangunan Pangrawit berada di kiri depan kompleks menghadap arah utara. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berantai tegel. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang berjumlah 16 buah mendukung atap sirap. Bangunan ini memiliki pagar terali besi. Nama Pancaniti berasal dari panca berarti jalan dan niti berarti mata atau raja atau atasan. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat perwira melatih prajurit dalam perang- perangan, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.

            Berhubung siang itu matahari cukup terik, akhirnya gue dan teman-teman pun memilih beristirahat di dalam pendopo. Kebetulan siang itu akan ada acara yang cukup penting. Terlihat beberapa penari tengah bersiap-siap hendak menyambut para tamu dengan tari-tarian khas Cirebon.
Begitu banyak yang perlu di “korek” di Keraton kesepuhan ini. Karena, informasi-informasi yang diberikan guide cukup membuat gue berdecak kagum dan sesekali terbengong-bengong. Hmm... mengulik sejarah itu ternyata asyik meski membingungkan ya...

foto:Very Barus





Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....