Mengukur Kemampuan Sebelum Traveling, Itu Penting




Pekan kemaren, gue bertemu sahabat yang baru saja pulang traveling dari Ladakh, Ibukotanya Leh. Ladakh termasuk daerah semi-otonom di negara bagian paling utara India, Jammu dan Kashmir. Ladakh sendiri berbatasan langsung dengan Pakistan dan China. Memiliki empat musim dalam setahun dan terletak di lingkaran pegunungan Himalaya yang merupakan salah satu gunung tertinggi di dunia.

Dia bercerita, bagaimana dia dan teman-temannya menelurusi Ladakh. Semakin membuat gue penasaran dan excited pengen tahu petualangan seru mereka. Rasa penasaran gue campur aduk antara percaya dan tidak. Bagaimana mungkin teman gue yang tidak suka naik gunung dengan alasan bobot tubuhnya yang cukup berat untuk dipikul, tiba-tiba pergi ke Ladakh yang pusat kotanya berada di ketinggian 3000-an Mdpl?  Sedangkan gue yang pernah mendaki Gunung Rinjani saja hampir ngap-ngapan saat menapaki punjak Rinjani yang memiliki tinggi 3.720 Mdpl. Sumpah! Capeknya luarrrrrrrr biasa. Nafas ngos-ngosan karena oksigens emakin menipis. Cuhu udaranya pun super dingin menjelang sore hingga dini hari. Gue yang tidak tahan udara dingin hamper kolaps. 


Kemudian, dia pun mengisahkan “tragisnya” perjalanan mereka saat  ke Ladakh. “Kebayang nggak sih, kalau pesawat yang kami tumpangi mendarat di ketinggian 3.256 mdpl.”

What???

Gue langsung kaget. Bagaimana mungkin mereka langsung berada di ketinggian yang hamper setinggi puncak Rinjani? Ternyata, Bandara udara Kushok Bakula Rinpoche di Leh memang berada di ketinggian tersebut. Banyak pendaki melanjutkan perjalanan ke puncak yang lebih tinggi lagi. Kemudian, tragedi pun terjadi. Beberapa dari rombongan mereka mengalami AMS atau Acute Mountain Sickness. Penyakit yang sering dialami pendaki ketika berada di ketinggian yang menurut fisik mereka tidak mampu menerima perubahan ketinggian tersebut. 

foto: agus susilo


Biasanya AMS menyerang mereka yang berpindah cepat dari dataran rendah ke dataran tinggi, tubuh dipaksa untuk beradaptasi dengan kondisi oksigen yang lebih tipis. Tidak ada yang bisa memprediksi siapa yang akan terserang AMS, bisa tua maupun muda. Gejala akan terasa 24 jam atau lebih, mulai dari saat kita berada di ketinggian, biasanya ketinggian diatas 3.000m, yang terparah gejalanya mungkin bisa terasa sampai tiga minggu. 


Dia dan beberapa temannya sempat mengalami pusing, mual-mual hingga muntah. Ditambah lagi saat itu salju sedang menyelimuti hampir seluruh permukaan tempat mereka berada. PAdahal mereka datang masih di bulan-bulan yang “wajar” untuk dikunjungi turis. Mereka berada di Ladakh bulan Mei lalu.  
                  “Pokoknya duingiiiinnnnn nya minta ampun. Minum 20 drajat.” Katanya. “Yang lebih menyiksa lagi, kami menginap di tenda yang tidak memiliki heater atau pemanas ruangan. Kebayang membekunya bukan?”lanjutnya greget. Selain itu, disana juga minim makanan yang menggugah selera.
                  “Gue tidak suka kari. Tapi, hampir setiap hari yang disuguhkan makanan berbau kari dan kari. Nyaris, setiap menyium aroma kari gue langsung muntah.” Kisahnya dengan mimik wajah jijik setiap kali mengisahkan makanan khas India itu. Sangkin traumanya, setiba di Indonesia, teman gue tidak mau menyentuh makanan khas Padang. Karena sebagain dari menu di Resto Padang ada unsur-unsur Kari-nya.

Kelar deh….

Yang jelas, perjalanan yang berawal dianggap menantang, ternyata benar-benar menantang “maut”. Kalau tidak sigap mungkin diantara mereka ada yang GONE! alias meninggal. Tidak heran ketika ditanya bagaimana perjalanannya ke Ladakh, dia tidak antusias. Bahkan nyaris hampir membuka lembaran kelam dalam perjalanan travelingnya. Bahkan, ketika ditanya foto-foto saat berada disana sangat sedikit dan tidak ada yang membuat gue amazing memandangnya.
                  “Boro-boro hunting foto. Masih hidup saja syukur. Pokoknya selama disana mood gue benar-benar drop deh.” Ucapnya ketus.  





MARI MENGUKUR KEMAMPUAN
Belajar dari pengalaman perjalanan teman gue, banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Terutama soal kesiapan  mental, fisik, stamina dan juga material. Banyak orang beranggapan kalau traveling itu ajang senang-senang dan menghabiskan uang. Anggapan itu sebenarnya sangat keliru.
Selain menguji mental dan nyali, Traveling itu juga ajang mengukur kemampuan kita. Tidak hanya sebatas finansial, juga mengukur kemampuan secara fisik. Sebelum pergi traveling, kita harus tahu kemana tujuan yang kita inginkan. Bukan keinginan teman-teman kita. Kita yang tahu kelemahan kita. Kita yang tahu apa yang disuka dan tidak disuka. Jika kita faham hal-hal tersebut, maka, kita bisa memilih tujuan yang cocok dan sesuai dengan keinginan kita.  Jangan sampai uai traveling kita mengalami trauma yang sangat dalam. 



Seperti gue,

Gue sangat faham betul apa yang gue suka dan tidak. Gue suka gunung dan gue masih sanggup naik gunung. Tapi, ketika fisik gue mengatakan “tidak saatnya” untuk naik gunung, maka, gue akan menolak ajakan dari teman-teman untuk naik gunung. Karena, kalau gue tetap memaksakan, yang terjadi nanti malah merugikan diri sendiri dan juga merepotkan orang banyak. Maka dari itu, kita haru sadar akan kemapuan fisik kita.

Selain itu….

Gue suka Pantai, suka Ke Pulau TAPI gue tidak suka KEDALAMAN. Oleh karena itu, biar dibilang gratis diving(menyelam) untuk melihat-lihat biota laut, gue akan say NO!. Karen ague sadar, gue tidak suka kedalaman. Bahkan bisa dibilang phobia. JAdi, hal-hal yang berhubungan dengan kedalaman gue pasti trauma dan takut. Oleh karena itu, ketika ditawarain Diving saat di Jailolo, gue menolak dengan tegas.

Banyak hal-hal yang bisa dijadikan ‘Warning” untuk mengukru kemampuan diri sendiri. Kuncinya cuma satu, jangan pernah memaksakan diri agar terlihat keren. Agar dibilang hebat atau pujian-pujian lainnya. Karena sesungguhnya Traveling bukan untuk ajang lomba “pengakuan”. 




Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....