Seven Eleven, Riwayatmu Kini. #RIPSEVEL





                  Sejak mendapat kabar “duka”  (akhir bulan Juni lalu) atas ditutupnya tempat nongkrong Seven Eleven, yang merupakan salah satu tempat nongkrong favorit gue untuk menulis atau pun janjian sama teman-teman. Bagi gue, Sevel menjadi tempat yang sangat mewakili keinginan gue. Tempatnya nyaman dan bersih, harga makanan dan minumannya masih ramah di kantong. Fasilitas wifi dan AC-nya juga sangat membantu lancarnya pekerjaan gue.

Hanya saja, setiap kali datang ke Sevel, gue suka kesal dan ngomel melihat ulah pengunjung yang rata-rata ABG atau anak kampus atau juga orang kantoran yang suka nongkrong berlama-lama disitu. Kenapa kesal, menurut gue, rata-rata pengunjung Sevel buta aksara alias tidak bisa membaca.

Kenapa?

Karena hampir disetiap sudut ruangan atau bahkan di meja-meja sudah tertulis pengumuman “Dilarang Membuang Sampah Sembarangan” Atau “Buang Sampah Pada Tempatnya.” Namun, sayang, pengunjung yang ngaku anak sekolah, anak kampus hingga para pegawai kantor yang notabene berpendidikan, namun sayang ternyata mereka tidak bisa membaca. Karena, pengumuman segede gaban tentang menjaga kebersihan pun tidak bisa mereka baca. Mereka masih membuang sampah seenaknya atau bahkan dengan bangga meninggalkan bekas sampah minuman dan makanan mereka di meja. 

BACA JUGA: SEVEL HITS BENER

Pernah (beberapa kali) gue memergoki segerombolan anak remaja hendak meninggalkan meja yang penuh sampah makanan setelah berjam-jam mereka tempati. Sebelum beranjak, gue menegur mereka dengan sopan dan baik.
                  “Tolong sampahnya dibuang pada tempat sampah ya…”
Tapi sayang dengan lantang mereka menjawab, ”Kan ada petugas yang nanti akan membersihkannya.”
Karena kesal, gue langsung menyuruh mereka membaca stiker bertuliskan tentang Membuang sampah pada tempatnya. Kemudian, dengan kesal dan wajah menggerutu satu persatu mereka mengambil sisa bungkus makanan dan minuman yang sesungguhnya adalah milik mereka. Terserah mereka mau ngomel-ngomel, yang jelas bagi gue, itu sudah menjadi treatment agar otak mereka bisa di fungsikan untuk menjaga kebersihan dimana dan kapan pun.

Selain para remaja tanggung, gue juga sempat menegur sepasang sejoli yang makan dan minum dengan aneka jenis makanan dan minuman yang terhidang di atas meja. Kemudian dengan tidak ada beban, selesai kencan dan makan-makan mereka pergi meninggalkan sisa sampah di atas meja mereka. Lagi-lagi gue menegur agar mereka membuang sisa makanan minuman mereka pada tempatnya. Lagi-lagi adu argument pun sempat terjadi dan gue tidak pernah gentar untuk menghadapi orang-orang yang BUTA akan kebersihan. Biar deh capek dikit namun gue bisa memberi “ilmu” menjaga kebersihan bagi siapa saja yang masih belum mendapat ilmu soal kebersihan  dari orangtuanya.

Selain soal kebersihan yang bikin keki adalah, soal mengambil saos atau sambal ketika pengunjung membeli hotdog, burger, citatos  atau makanan apa saja yang membutuhkan saos sambal dan mayones. Kebanyakan mereka mengambilnya dengan rakus dan tidak pakai takaran kesanggupan isi perut mereka. Sehingga tidak jarang saos sambal dan kawan-kawannya tadi mubajir dan terbuang sia-sia. Jika dihitung sudah berapa banyak kerugian Sevel dari saos dkk itu? Begitu banyak saos sambal, saos mayones atau saos-saos lainnya yang terbuang begitu saja? Setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan hingga setiap tahun. Jika dihitung, jelas kerugian semakin membengkak.

So, wajar kalau akhirnya Sevel tutup dan mengalami kebangkrutan karena setaip tahunnya terus merugi. Salah satu penyebabnya adalah terlalu royal dan baik hatinya pemilik Sevel kepada custumernya. Hanya sayang, custumernya yang Ngelunjak dan berujung pada kehancuran dinasti Sevel.

Sejujurnya, Sevel sudah memberikan “wadah” nyaman untuk bisa duduk-duduk santai dengan aneka jenis makanan dan minuman dengan harga yang masih terjangkau. Hanya saja, di Indonesia, segala sesuatu yang masih dianggap “gratis” sering di habur-hamburkan. Seperti Saos dan kawan-kawan tadi. 

Slurpee adalah Salah satu jenis minuman yang sempat nge hits dikalangan anak muda.



Jika dihitung sampai 10, Sevel sudah memberi kenyamanan berupa:
1.         Tempat duduk-duduk yang nyaman dengan kuris dan meja yang nyaman.
2.         Memberi fasilitas AC dan WIFI gratis
3.         Harga makanan dan minuman yang terjangkau.
4.         Jenis makanan dan minuman yang aneka rupa.
5.         Karyawan yang ramah dan mau membersihkan bekas makanan dan minuman kamu.
6.         Tidak ada batas waktu dan juga minimum payment kalau kamu mau duduk-duduk di Sevel.
7.         Sering disuguhkan music yang up to date dan juga info-info menarik lainnya.
8.         Toilet yang nyaman.
9.         Parkir yang luas
10.   Tempat sampah yang cukup banyak tapi JARANG difungsikan pengunjung.

Tapi, kini semua itu hanya tinggal kenangan yang mungkin sedih untuk dikenang dan sulit untuk dilupakan. Gue yakin, banyak remaja ABG, anak kampus dan karyawan-karyawan kantoran merasa kehilangan tempat nongkrong murah meriah. Duduk-duduk santai sambil menunggu teman, menunggu kemacatan dan juga duduk-duduk santai sama pacar atau juga Sevel menjadi tempat “janjian” sama klien yang lagi-lagi ramah dengan kantong. 



MENGULIK SEJARAH SEVEL
Sebagai informasi tambahan, supaya kamu juga memahami sedikit sejarah hadirnya Sevel di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Sevel masuk ke Indonesia pada tahun 2008. Dikelola oleh PT Modern Sevel Indonesia, anak dari PT Modern International Tbk. Sevel ini merupakan hasil transformasi bisnis dari Modern Grup, Modern grup dulu bergema dengan bisnis fotonya. Tapi, mengalami kelesuan sejak masuknya era digital. Di tengah kelesuan bisnis, Grup Modern akhirnya memutuskan untuk membeli lisensi waralaba 7-Eleven alias Sevel. Tidak sia-sia insting bisnis Modern dijalankan. Karena, Sevel terbukti sukses menyelamatkan bisnis Grup Modern.

Di seluruh dunia, Sevel tersebar di 17 negara dengan jumlah gerai menapai 58.300. Dua pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang. Awalnya Sevel berdiri di Texas tahun 1927 dengan nama awal Tote'm Stores. Nama Sevel baru digunakan pada 1946. Karena, jam beroperasi toko tersebut hanya buka sejak pukul 7 pagi sampai 11 malam. Maka, berubahlah namanya menjadi Seven Eleven.  Sejak dibuka di Indonesia tahun 2008, Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat. Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta mencapai 190. Di tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Kejayaan Sevel menjadi tempat yang paling hits di Jakarta mulai goyah ketika pemerintah memberlakukan undang-undang bahwa setiap mini market dilarang  menjual minuman beralkohol.  Ya, sejak tanggal 16 April 2015, minimarket dilarang menjual minumal beralkohol. Larangan itu tertuang dalam Peraturan menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran,
dan Penjualan Minumal Beralkohol.

Sejak pelarangan itu, gerai-gerai Sevel, Alfamart, Indomart dan rekan-rekannya tidak bisa menjual minuman beralkohol sepertibir, Smirnof, vodka dll. Minumal beralkohol tersebut hanya boleh dijual di supermarket. Tujuan pemerintah memberlakukan undang-undang tersebut untuk menghindari konsumsi alkohol oleh anak-anak dan remaja.Konon katanya, sejak berlakunya aturan tersebutlah onset penjualan Sevel menurun drahtis. Selain itu, persaingan di dunia Convenience store pun semakin ketat. Dulu, Sevel bersaing ketat dengan Circle K. Tapi, sekarang semakin menjamur  mini market-mini market sejenis sevel bermunculan. Sebut saja, Lawson, Family Mart dan bahkan Alfamart dan indomart pun sudah mulai menyediakan fasilitas tempat duduk dan meja untuk pengunjungnya duudk-duduk santai. Hanya saja tidak semeriah Sevel. 



Intinya, jika ditanya, apakah gue merasa kehilangan atas “wafatnya” Sevel? Jawabnya Ya. Gue kehilangan minuman favorit gue yang sering gue beli di sevel, yaitu Hot Greentea Latte dan Teh tariknya.  Hmm, nikmat banget. Mungkin, jika gue kepengen minum minuman yang ada di sevel, gue harus pergi ke Negara-negara tetangga (Sing, KL, Thailand, Jepang dll) yang masih ada lambang Seven eleven yang berdiri kokohnya.  Biasanya, saat traveling ke  luar negeri pun, Sevel menjadi salah satu mini market yang sering gue kunjungi membeli keperluan makanan dan minuman untuk di penginapan. Enath kenapa, Sevel begitu berkesan dalam hidup gue.

Selamat Jalan Seven eleven, 
Beristirahatlah dengan tenang.  

Comments

  1. Aq ingat mas, waktu sevel baru buka di daerah binus kemanggisan, aq sm adik-adik kesana cuma pengen nyobain slurpee, dan ketika sevel masih banyak bgt di penjuru jakarta sevel adalah tempat yang enak banget buat nunggu orang dan kita bisa santai sambil main hp, buat janjian ktm temen sambil jajan murmer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sevel memang tempat yang ramah dengan isi kantong deh... nyaman dan menunya enak2

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....