Antara Traveling, Persahabatan, Gadget dan Sosial Media


foto: Google. image


            Kesepakatan untuk traveling bersama teman-teman sudah sejak lama direncanakan. Rasa excited akan traveling bersama-sama begitu menggelora disetiap sanubari teman-teman. Hampir setiap hari mereka rajin menulis status di akun sosmed mereka tentang renacan liburan bersama ke Bali. Salah satunya ingin “mengompori” teman-teman yang tidak ikut. Bayangin, 8 orang yang dianggap sahabat karib, liburan bersama, tentu akan terjadi  kesenangan yang luar biasa, bukan? Belum berangkat saja, isi timeline mereka sudah dipenuhi planning-planning soal liburan nanti.

Wajar sih, namanya juga traveling bersama teman-teman karib. Momen ini bisa disebut langka karena belum tentu bisa dilakukan setahun sekali. Untuk planning ini saja dibutuhkan waktu 3 tahun lamanya agar keinginan tersebut bisa terwujud.

Tapi, apakah impian selama tiga tahun itu bisa berjalan sesuai harapan?

Let’s see…



Pada hari H, gue dan ke 7 teman karib sudah berkumpul di bandara Soetta. Karena meeting point sengaja dipilih Bandara biar tidak saling tunggu menunggu di tempat yang tidak jelas. Belum lagi menghadapi kemacetan yang luar binasa hebatnya.

Saat ketemu di bandara, wajah-wajah excited begitu jelas diwajah teman-teman. Hal pertama yang dilakukan saat bertemu di bandara adalah, Selfie dari berbagai angle. Kemudian dilanjutkan foto wefie dengan formasi lengkap. Kemudian formasi cewek-cewek semua, lalu cowok-cowok semua. Kemudian selfie lagi, wefie lagi, selfie lagi wefie lagi.. Ya, gitu aja sampe liburan kelar. Semua dilakukan demi sebuah eksistensi di social media. Konon katanya, kalau tidak eksis di sosmed, dianggap sebagai “anak gagal eksis”. Sosmed sudah seperti DEWA oleh para penggila sosmed. Bahkan, tahtahnya sudah mengalahkan Orangtua. Karena apa-apa semua ngadu ke sosmed. Bahkan, berdoa saja pun ngadu ke sosmed bukan ke Tuhan lagi. “Tuhan lindungilah perjalanan kami… bla..bla..bla..bla..”

Ibarat candu yang sudah benar-benar menggerogoti jiwa dan raga manusia. sosmed begitu sangat dibutuhkan. Mereka sangat membutuhkan itu. Jawab dengan jujur, Dalam satu hari, pernah nggak kamu tidak berhubungan dengan sosmed-mu?



Jawaban yang cukup berat bukan?

Konon katanya, dalam satu hari, penggila sosmed membutuhkan waktu lebih dari 6 jam bahkan lebih hanya untuk memantengi sosmed. Ya, baik itu Facebook, Twitter, Instagram, Path dll..dll.. Konon katanya, Keberadaan sosmed sudah mengalahkan tv yang dulu dianggap sebagai sang primadona manusia. Kini, semua berlomba-lomba ingin menjari berita ter-update di sosmed. Terutama akun gossip tentunya.  Rasa kepo-mu akan kehidupan orang lain begitu besar. Sehingga kehidupan pribadimu pun terabaikan.

Ada berapa banyak akun sosmed yang kamu miliki?

Gue?

Hmm, jujur nih ya, gue punya Facebook, Twitter, Path dan Instagram. Tapi, gue lebih aktif di Instagram dan FB. Itu juga karena gue sekalian “jualan” travel agent gue. Kalau FB hanya sesekali saja dipantengin. Twitter kebetulan terkoneksi langsung dengan FB. Ya, begitulah jejaringannya.  Mungkin, teman-teman gue juga memiliki akun sosmed yang tidak kalah banyaknya dari yang gue punya. 



Entahlah….

Back to Trip…

Setelah bertemu di Bandara, bertegur sapa, berfoto bareng kemudian keriuhan tiba-tiba senyap. Sambil menunggu boarding, masing-masing sudah asyik lagi dengan handphone pinternya. Meski duduk bersebelahan, namun semua sudah tidak saling bertegur sapa, karena semua mata lebih memilih fokus pada layar smartphone masing ketimbang memperhatikan teman-temannya yang ada di sebelah. Semua sibuk menulis status keberadaan mereka saat itu. Tidak lupa mengaktifkan location pada keterangan lokasi.

Ya, keterangan lokasi itu seperti sangat penting. Itu wujud sebuah pengakuan, bahwa kamu sekarang berada dimana. Apalagi kalau kamu sedang berada di sebuah tempat yang menurut kamu hits atau keren. Location itu MUTLAK di tasbihkan. Tapi, pernah kah kamu mengaktifkan location saat berada di warung sebelah rumahmu? Atau location saat kamu sibuk beberes di rumah? Ya, tidak semua penggila sosmed melakukan itu. Bila perlu, kamu berbohong akan keberadaanmu dengan memajang stok foto yang ada di hapemu, kemudian menulis lokasi palsu untuk mengelabui teman-teman yang ada di frinds list-mu. 

Suasana semakin senyap..

Meski di sekeliling kami ramai orang berlalu lalang, namun semua itu seakan tidak menjadi penghalang bagi teman-teman untuk fokus pada layar smartphone mereka. Bayangkan, ketika semua menulis status yang hampir sama dan bersamaan. Masing-masing juga saling memberi support pada status teman-teman dengan memberi kode LOVE, LIKE atau emotion tanda Senyum dan sebagainya.  Padahal semua masih dalam satu ruangan dan duduk bersebelahan. Meski tanpa tegur sapa di dunia nyata namun masing-masing tangan sudah beregrak cepat memberi dukuangan dengan munculnya kode Love, like dll di status sosmed teman-teman.

Itulah hebatnya social media…..  

Aba-aba dari pengeras suara menyuruh penumpang naik ke pesawat, suasana riuh kembali bergema seolah-olah sudah tidak sabar ingin cepat-cepat berangkat. Keakraban kembali terjadi (meski memang sudah akrab) Masing-masing saling mengingatkan untuk tidak lupa membawa barang masing-masing. Hmm. Sebenarnya, keakraban yang real seperti ini yang gue harapkan saat traveling. Tapi, terkadang, keakraban itu hilang-hilang timbul disebabkan dahsyatnya godaan si Sosmed.

Bahkan saat di dalam perut pesawat pun, dengan gerakan cepat cepat dan tangkas masing-masing langsung mengeluarkan smartphone dari saku celana atau kantong baju. Sibuk up date status atau sibuk ngintip atau kepo-in status orang lain. Atau juga menyempatkan ngintip akun gossip yang ngehits. Bahkan, masih sempat juga mengabadikan diri dengan ber-selfie-ria di dalam pesawat. Kemudian, dengan gerakan cepat langsung “ngisip absen” di sosmed dengan memposting foto yang dibumbui caption,” on boad” atau “see you Jakarta..” atau “Bali, I’m coming” atau berdoa via sosmed,“God, save our flight..”  Lalu, posting!
Seketika foto kamu di dalam pesawat tersebar keseluruh penjuru dunia maya. Dengan harap-harap cemas kamu  menunggu respon “like, Love dank omen dari followers-mu.” Bahkan ada juga teman yang FAKIR LIKE. Rela memohon-mohon agar foto atau statusnya di beri like atau love atau apalah itu.

Penting banget ya….

Itulah Hebatnya Social media….

Pesawat Take off. Semua perangkat handphone dan elektronik yang memancarkan signal di wajibkan untuk dimatikan. Mungkin, momen-momen tanpa sosmed inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk menciptakan keakraban lagi. Namun, lagi-lagi, kamu lebih memilih fokus dengan smarphone yang sudah kamu setting “airplane mode on”. Ketimbang ngobrol dengan teman disebelah, kamu lebih memilih membuka aplikasi edit-edit foto untuk mempercantik diri kamu yang biasa-biasa saja menjadi LUAR BIASA. Rasanya ada kepuasan pada diri kamu melihat wajah kamu yang biasa berubah bak Kendall Jenner atau berubah tampan bak Cristiano Ronaldo. Meski semua berkat jasa aplikasi BeautiFake (sorry, bukan beautiful ya..).

Pesawat Landing….

Do you know guys, apa hal pertama yang dilakukan saat mendengar aba-aba pesawat akan landing? Yang jelas si Maha penting Smartphone duluan di aktifkan. 1.5 jam non aktif rasanya setahun kali ya. Karena semua langsung buru-buru mengaktifkan handphonenya.  Semua hanya gara-gara ingin tahu kira-kira berapa like, love atau komentar-komentar yang kamu dapat saat hape kamu sedang OFF. Ya, lagi-lagi, meski kamu melanggar peraturan menyalakan hape meski belum pada waktunya.

Itulah hebatnya Social Media…

Mendarat di Bali… Foto-foto selfie, wefie, selfie, wefie berkali-kali di Bandara, sampai kamu bener-bener mendapatkan foto yang layak publish. Kalau belum dapat juga, kamu rela gempor deh demi foto kece. Intinya, dibalik foto cantik/keren yang di posting di sosmed, terdapat ratusan foto buruk atau tidak layak tayang yang dihapus.

Setelah foto diseleksi, lalu di posting. Lalu menunggu respon followers. Menunggu like, menunggu love dan menunggu komen. Rasanya itu lebih penting dari perut kosong kelaparan. Mendapat like, love dank omen sudah membuat kamu kenyang.

Di dalam mobil, menuju hotel. Lagi-lagi obrolan seru-seruan sifatnya hanya sementara. Selebihnya mata focus ke layar hape. Kalau pun terjadi obrolan, mata tetap tertuju di layar hape dan hanya mulut saja yang bercuap-cuap. Luar biasa! Semua  hanyut dengan smartphone dan social media. Tidak peduli lagi perubahan apa yang terjadi di Bali. Bangunan baru apa yang ada di Bali. They don’t care!

Intinya, 3 malam 4 hari  traveling di Bali, sepertinya momen kebersamaan itu hampa. Karena semua lebih mementingkan update status dan foto, kemudian sibuk baca-baca status orang, lihat-lihat foto orang dan juga sibuk baca akun gossip. Itu lebih penting. Bahkan, ketika jalan-jalan bersama ke pantai, ke resto dan ke objek-objek wisata lainnya, sepanjang perjalanan, di dalam mobil semua sibuk dengan handphonenya. Saat tiba di resto, lagi-lagi semua disibukkan dengan mengabadikan diri di kafe, resto, pantai dan lainnya. Bahkan dengan pede juga memoto barang-barang yang sedang di pakai saat itu lalu memasang hastag #OOTD. Hmm, mengharap dapat endors-an kali ya…



Puas kah libura bersama teman-teman?

Jawabnya TIDAK!

Kenapa?

Ya, karena masing-masing lebih mementingkan smartphone dan sosmed-nya ketimbang kebersamaa. Kebersamaan yang diposting di foto hanyalah kamuflase. Tipuan dan Palsu. Karena, usai foto bersama untuk keperluan postingan, semua kembali sibuk dengan dunia semu masing-masing.

Ini kan yang dinakana liburan era Social media???

Lebih mementingkan update foto, update status, update OOTD, update makanan, update lokasi  ketimbang menciptakan kearaban? Atau, keakraban hanya milik sosmed semata bukan untuk dunia nyata.

Entahlah…



Gue benar-benar kehilangan momen-momen intim dengan teman-teman. Gue kehilangan keriaan yang benar-benar ria. Gue kehilangan kegilaan saat liburan bersama-sama. Semua hilang dimakan Smartphone dan Sosmed.

Dulu, sebelum sosmed meracuni otak manusia, yang namanya liburan terasa benar-benar liburan. Karena setiap momen dinikmati sepenuh hati tanpa ada si  Smartphone dan Sosmed yang gue anggap sebagai si Biang Kerok!

Jika, boleh memilih, gue kepingin smartphone yang super canggih dan social media yang super annoying menghilang dari muka bumi ini. Gue kangen kebersamaan yang benar-benar erat… Ya, gue kepingin traveling bersama teman-teman tanpa smartphone dan tanpa sosmed yang begitu di dewakan.







 

Comments

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

The LODGE-MARIBAYA, Menikmati Sky Tree, Mountain Swing & Zip Bike....