Yuk, Melihat "Kuburan Massal" Gerbong Kereta di Stasiun Purwakarta




Pernah beberapa kali melihat di sosial media foto-foto tumpukkan gerbong kereta usang di stasiun kereta Purwakarta. Gue merasa tumpukan rongsokan gerbong yang tidak terpakai  itu justru terlihat begitu menarik.  Muncul rasa penasaran ingin melihat langsung lokasi rongsokan itu. Beberapa informasi yang gue dapat, rongsokan-rongsokan itu dinamakan “Kuburan” gerbong kereta usang.

Terserah, apa pun nama lokasi tersebut, gue pengen kesana.

Hingga akhirnya, akhir pekan kemaren, gue menyempatkan diri kembali datang ke Purwakarta. Tujuannya lagi-lagi hanya ingin melihat kuburan itu. Ya, gue pengen melayat rongsokan-rongsokan itu. Rasa penasaran menghantarkan gue ke lokasi stasiun kereta api Purwakarta yang ada di Jl. Kolonel Kornel Singawinata No. 1, Nagritengah, Purwakarta.  Ternyata ada yang unik di depan stasiun kereta tersebut. Ada gedung kembar yang bentuk dan wujudnya sama persis. Ya, iya lah. Namanya juga kembar. Hanya posisi gedungnya yang berbeda. Satu berada di sisi kiri dan satunya sisi kanan. Unik! Gedung tersebut peninggalan jaman Belanda dulu lho.



Lalu, gue mencoba melangah masuk ke dalam stasiun untuk melihat lebih dekat kuburan itu. Meski dari luar rongsokan-rongsokan gerbong sudah terlihat jelas. Hanya saja, gue pengen melihat dan menyentuh dari dekat. Karena di dekat stasiun itulah terdapat bekas dipo lokomotif dan KRL Ekonomi Non AC. Karena sudah tidak terpakai, maka, stasiun itu menjadi tempat “kuburan” kereta-kereta yang sudah tidak layak pakai lag. Semua dikubur masal disitu. Ya,  mulai dari seluruh kereta rel listrik ekonomi non-AC.


Kalau mengulik sejarahnya, rongsokan kereta-kereta bekas ini dulunya pernah jaya dan beroperasi mengangkut penumpang di lintas Jabodetabek. Namun sayang, sejak dihapuskannya KRL non-AC (tanggal 25 Juli 20130, maka,  jumlah kereta yang tidak layak pakai pun semakin banyak. Ada aneka jenis kereta  disini, mulai dari KRL Rheostatik, BN-Holec, dan Hitachi. Tidak ketinggalan, sisa gerbong KRL AC seri T Rapid 1000 dan Tokyo Metro 5000.  Semuanya di “makam kan” disini. Jumlahnya ada ratusan gerbong kereta. 


Pihak PT KAI mengatakan gerbong-gerbong kereta itu sudah tua dan sudah tidak layak pakai. Bahkan, jika terjadi kerusakan, yang jual suku cadangnya saja sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, kereta-kereta yang tidak terpakai ditarok disini. Jika dilihat tumpukan-tumpukan itu, tumpukan paling tinggi berjumlah 14 gerbong. Gerbong-gerbong ini ditumpuk menjadi tiga lapis. Ada juga yang ditumpuk dengan cara memanjang. Jumlah gerbong yang ditumpuk memanjang ada dua lapis, dan jumlahnya mencapai 24 kereta. Pada bagian bawah kereta itu terdapat besi-besi bekas serta kayu dari kereta tersebut. Karena usianya sudah uzur dan diletakkan disini kena hujan dan sinar matahari, maka wajar kalau sebagian rongsokan itu mulai berkarat dan juga terkelupas catnya.



Namun, bagi gue pecinta seni dan fotografi, tumpukan-tumpukan gerbong kereta usang itu justru terlihat indah dan memiliki seni yang bagus jika diabadikan lewat kamera.

Cukup menarik bukan??




Comments

  1. baru tahu kalo kuburan gerbong kereta api ada di purwakarta, kata temen aq di subang juga ada kuburan kereta, menarik mas

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SETEGAR HATI SUCI .....

Cerita tentang Seorang Ibu Tukang Pijat di Atas Kereta