DEMI GAYA HIDUP HEDONIS



            Tidak seperti biasanya, akun IG teman gue yang satu ini sepi dari postingan. Sudah hampir satu bulan postingannya tidak bertambah. Biasanya, dalam sehari, dia bisa memposting foto-foto hedon yang terkadang bisa bikin orang yang melihatnya nyesak nafas. Gimana tidak, dalam postingan tsb, dia selalu posting saat dia sedang traveling ke luar negeri, party, shopping barang-barang branded yang harganya tentu jut-jutan. Juga kuliner di resto mewah. Teman gaulnya juga sekarang rata-rata suka hedon dan doyan kehidupan yang serba glamour. Meski sesungguhnya gue tahu siapa dia dan dari mana asal-usulnya.

But, I don’t care what he did behind us.

Suatu kali, gue pernah berkunjung ke rumahnya tepatnya ke apartemennya. Dia bercerita kalau apartemen yang dia tempati itu hasil jerih payahnya selama 3 tahun menjalani profesina. Busyet, baru tiga tahun sudah bisa meli Apartemen dengan harga yang mencapai  1 M.
            “Aku masih nyicil ini. Tapi, syukurlah, hasil jerih payah selama ini bisa dikumpulin untuk beli apartemen.” Ujarnya sedikit membanggakan diri.  Selain apartemen, dia juga punya mobil yang harganya di atas 400 juta. Katanya untuk menunjang aktivitasnya agar lbih mobile Meski sejujurnya demi menunjang gaya hidupnya yang hedon.
            “Soalnya teman-temanku rata-rata punya mobil. Ntar kalo terus-terusan naik Ojek atau grab ntar diketawain. Makanya aku beli mobil.” (sebegitu nistanya naik Grab atau ojol dimata mereka.)

Hmmm.. alasan yang menurut gue sih maksa. Maksa demi gaya hidup.

Karena penasaran dengan penghasilannya yang begitu edan, akhirnya, gue pun bertanya,
”Sebenarnya kerjaan lu, apa sih? Gue yang sudah bertahun-tahun kerja belum bisa beli apartemen mewah dan mobil bagus.”  Dia hanya tertawa selebar-lebarnya mendengar introgasi gue.
            “Lu mau tau kerjaan aku?” tantangnya.
            “Iya, lu kerjaannya apa? Artis bukan, kantoran bukan. Jangan-jangan lu simpenan tante-tante ya?” gue langsung nyekak.  Lagi-lagi dia tertawa lebar. Dia tidak membantah dugaan gue akan profesinya sebagai “penjaja seks”.

MENGEJAR IMPIAN

Foto taken from: google image

            Lalu, dia pun berkisah. Sejak hijrah dari kota kelahirannya di Indonesia bagian Timur, dia berusaha mencari kerja dengan melamar kesana kemari. Tapi, modal ijasah sarjana saja ternyata tidak cukup. Bahkan, meski punya skill berbahasa Inggris dengan lancar sekali pun, dia belum bisa menggapai apa yang dia inginkan.
            “Semua factor Luck! Lu punya skill yang lu rasa bisa memuluskan mendapat kerja, kalo lu belum luck atau rezeki belum nyantol, ya tetep aja jadi gembel.” Katanya.

Setelah hamper putus asa ngelamar sana sini. Test sana sini, yang berujung ke kegagalan, akhirnya, suatu ketika ada tawaran yang datang padanya untuk ikutan kontes sejenis L-Men gitu. Memang sih, dia memiliki body ok, wajah ok dan tampilan juga ok. Pokoknya good looking lah. Mungkin bagi dia, ijasah sarjana sudah tidak mampu menggiringnya mendapatkan kerja sebagai karyawan kantoran. Maka, dia pun mulai mencoba keberuntungan dengan mengandalkan body dan good looking yang dia miliki.

Maka, dia pun ikutan body kontes yang kemudian membukakan pintu rezeki padanya. Meski tidak jadi pemenang, namun, sejak saat itu berbagai macam even banyak mengundang atau memakai dia beserta pria-pria macho lainnya.

Tidak puas dengan ajang kontes-kontesan, dia mencoba uji kemampuan dengan ikut kasting untuk main sinetron, film atau iklan. Namun, sayang, berkali-kali nyoba tetap belum keterima atau belum ada yang nyantol. lagi-lagi dia gagal. Hanya saja, relasi, pergaulan dan teman-temannya bertambah dari berbagai kalangan. Mulai dari selebritis, sosialita hingga pejabat, pengusaha dan sebagainya.

SEBUAH TAWARAN YANG MENGGIURKAN

Suatu hari, datang tawaran agar dia mau hadir di sebuah arisan “nyonya-nyonya jet set”. Arisan yang menghadiahkan cowok keren sebagai “hadiah”  untuk yang menang arisan hari itu. Maka, teman gue ini bersama beberapa temannya berbody oke hadir sebagai “hadiah”

Apa yang terjadi??

Mereka dijadikan “hadiah” untuk si pemenang arisan dengan bobo bersama salah satu diantara mereka dengan bayaran yang cukup menggiurkan. Kalau nggak salah, katanya, untuk sekali bobo dia mendapat bayaran sekitar 5 sampai 10 juta. Mungkin bagi nyonya jet set nominal segitu nggak ada apa-apanya. Bagi teman gue, itu uang yang cukup gede!

KEHIDUPAN BERUBAH

foto taken from Google image


Sejak saat itulah kehidupannya berubah drahtis. Dia begitu mudah mendapatkan uang dengan cara ya seperti kisah di atas. Dia sering di booking oleh nyonya-nyonya tajir melintirl. Bahkan, untuk bobo bersama saja, dia rela diajak ke luar negeri. Alasannya supaya tidak ketahuan para suami mereka. Tugas dia hanya memuaskan si wanita penggila seks. Entah apa resepnya,s ehingga teman gue bisa membuat mereka klepek-klepek dan namanya menjadi sering menjadi rekomendasi dikalangan wanita penggila seks itu. Sehingga si wanita tsb merekomendasikan dia dengan teman-teman “liar” lainnya.

Begitu lah seterusnya. Dia menjadi “bintang” dikalangan wanita jetset yang memegang teguh kerahasiaan perselingkuhan mereka. Ya, jalan satu-satunya berlibur ke luar negeri. Kalo ke luar negeri, mereka tidak pergi berbarengan melainkan teman gue akan nyusul di hari berikutnya. Segala akomodasi sudah disediakan juga uang DP 50 persen sebelum berangkat harus sudah di transfer ke rekeningnya.

Tiba di luar negeri, teman gue bebas mau beli apa saja. Bahkan barang-barang branded yang tidak mungkin terjangkau olehnya. Ya, iya lah, untuk sehelai kaos saja, bisa di bandrol harga 2 sampai 5 juta. Belum lagi barang-barang lainnya. Sebut saja, sepatu, baju, kemeja, tas, celana, ikat pinggang, dompet, hape Iphone dan Samsung seri ter-gress. Juga pernak Pernik lainnya.

Dari yang nggak ngerti merek karena takut melihat harga sampai akhirnya dia menjadi brand minded! Apa-apa harus bermerek. Bahkan sampai celana dalam sekali pun harus ber mek.
            “Mumpung di beliin, kenapa nggak sekalian saja pilih yang bagus. Kalo gue beli sendiri ya, beli celana dalam 10 ribu dapat tiga pun jadi.” Ujarnya sambal tertawa.

Pernah suatu kali, gue datang ke kediamannya, waktu itu dia baru pulang liburan ke Eropa selama hamper satu bulan. Tiba di apartemennya, dia menunjukkan barang belanjaannya selama liburan ke negara Eropa. Tidak tanggung-tanggung, semua serba branded. Mulai dari dompet, ikat pinggang, sepatu, kaos dan jam tangan merek Gucci. Kemudian, ada juga ikat pinggang merk LV, sepatu sport Adidas, celana, baju dan printilan-printilan lainnya yang tidak kalah mahalnya.
            “Ini hasil nyabo?” canda gue.
            “Hadiah kepuasan.” jawabnya santai sambal menunjukkan hape barunya dari Samsung seri terbaru.

Anjriiittt!!!!

TIME FLIES
pic from google


Karena sama-sama sibuk, gue dan dia jarang bertemu. Hanya bertegur sapa lewat WA atau sosmed. Gue sering memantengi kegiatan traveling dia lewat akun ig-nya. Namun, sebagai sahabat, gue sering menasihati dia untuk mencari pekerjaan yang halal atau bekerjalah sesuai kemampuan bukan sesuai keinginan body. DIa selalu menjawab,” iya, ntar..iya ntar..”

Mungkin dia sudah keenakan kali ya. Kerjanya nggak capek kok. Cuma memberi kepuasan seks lalu dapat duit yang jumlahnya sangat menggiurkan juga jalan-jalan gratis. Bahkan gara-gara profesinya itu, dia bisa beli mobil dan apartemen (meski masih nyicil).

Kehidupannya semakin hari semakin hedon. Hampir setiap hari kerjaannya kalau nggak nge gym, malam harinya pergi clubbing. Hang out sampai pagi. Pulang dalam keadaan mabok atau sesekali katanya dia dan teman-temannya make barang terlarang. Lagi-lagi, gue sebagai teman selalu mengingatkan,” jangan nge drugs. Sekali ketangkap, kelar hidup lo…”ujar gue.

Karena, berdasarkan dari pengalaman teman gue yang dulu suka nge drugs yang akhirnya ktangkap polisi hidupnya langsung nyungsep ke titik terendah. Kembali k enol! Karena, semua tabungannya habis terkuras demi bisa meringankan hukuman. Ya, pelajaran itu juga yang gue pegang sebisa mungkin gue tidak mau berurusan dengan polisi (hukum). Juga, sebagai teman yang baik, gue juga nggak mau teman baik gue kena kasus juga.

SAD ENDING
foto taken from: google image


Tapi, apa yang terjadi, nasihat yang gue berikan hanya kayak korek kuping. Masuk tapi keluar lagi. Nggak di cerna dengan baik dan di cam kan sebagai “warning”. Setelah hampir 3 minggu tidak pernah melihat dia posting foto di akun ig-nya, gue tentu penasaran. Gue lalu mencari tahu keberadaanya. Satu persatu teman gue tanyai, namun tidak ada yang tahu atau semua tutup mulut.  Sebagai mantan jurnalis, naluri rasa ingin tahu gue begitu kuat. Meski teman-teman dekat tidak ada yang tahu, maka, gue selidiki akun sosmednya, dengan siapa dia seling berbalas komen dengan akrab, maka dia salah satu teman dekatnya. Mulai deh, gue bergerilya dan tidak sia-sia. Gue mendapatkan informasi, kalau sejak akhir Agustus lalu, dia ditangkap polisi gara-gara kasus Drugs.

Kaget. Jelas gue kaget. Meski rasa curiga sudah muncul sejak beberapa waktu lalu. Dan, ketika gue tahu dia masuk penjara, akhirnya, rasa khawatir gue menjadi nyata. Saran gue yang berkali-kali gue sampaikan mungkin tidak dicernanya sebelum dia merasakan gimana sakitnya di dalam jeruji besi.

Gue memang belum membesuk dia. Mungkin nanti, atau minggu depan. Gue yakin, jika bertemu dengan gue, dia akan kaget kenapa gue bisa tahu keberadaannya. Tapi, sebagai sahabat, gue akan tetap memberi support pada dia agar tetap semangat meski dia kini dalam ke terpurukan.

Ingat!

Sahabat yang baik adalah, kita selalu ada disaat sahabat kita dalam keadaan suka dan duka. Tidak perduli apa pun profesi, status, jabatan dan juga agama dan rasnya.  Semoga, dengan kasus ini, sahabat gue bisa memaknai arti hidup juga arti kebebeasan itu seperti apa. Juga, satu hal, yang perlu dipelajari, jadilah diri sendiri. Karena Hidup itu mudah. Yang bikin susah itu cuma gaya hidup. Jika kita menjadi diri kita apa adanya, maka sulit bagi orang untuk mempengaruhi kita.

Mungkin ini juga pelajaran hidup yang telah gue lalui, sehingga gue bisa menjadi orang yang “sedikit” wise dan bisa menjadi diri gue seutuhnya. Kalau dulu, Hmm… hampir sama lah dengan sahabat gue ini… Hedon, dan pemburu merk dan juga suka dunia gemerlap. Hanya saja, gue tidak sampai terjerembab dan berurusan dengan hukum.  

Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan

TERNYATA PIJAT ++