EXPLORE DIENG DEMI EMBUN ES (UPAS) NAN FENOMENAL


foto by Very Barus


“Ke Dieng, Yuk?”
“Ngapain?”
“Lihat salju.”
“What?”
“Iya, Dieng lagi happening dengan embun es-nya yang membeku membentuk salju.”
“Kapan?”
“Weekend ini..”
“WHAT?”

Itu adalah percakapan gue dengan teman-teman traveling yang suka bikin trip dadakan. Ya, maklumlah, kalo trip yang di planning jauh-jauh hari suka nggak terwujud. Hanya wacana doing. Sampe ketuban ikan Paus pecah pun wacana tinggal wacana. Maka, trip dadakan itulah yang sering terwujud.



Awal Agustus 2017 lalu, gue dan keenam teman baik gue akhirnya mendadak turis ke Dieng hanya gara-gara pengen melihat “salju” ala Dieng. Berangkat mengendarai 2 mobil. Dari Jakarta kami berangkat pukul 8 malam. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 7-8 jam itu selalu diisi dengan canda tawa. Gimana tidak, peraturan yang berlalu sepanjang perjalanan, Tidak ada yang boleh tidur. Kalo tidur maka si “driver” memasang music sekencang-kencangnya atau pura-pura ngajak ngobrol.

Alhasil, hingga tiba di Dataran tinggi Dieng, kami tidak tidur (tapi nggak tau kalau di mobil sebelah ya…)

foto by very barus


            Ini untuk yang ketiga kalinya gue mengunjungi Dieng. Memang kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah ini tidak membosankan untuk di kunjungi. Dieng termasuk ke wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Sebagai pecinta Alam, ada beberapa gunung disana yang pengen gue daki yaitu, Gunung Sindoro, Gunung Prau dan Gunung Sumbing.  Karena diapit beberapa gunung yang masih aktif, Dieng termasuk kawasan Vulkanik aktif, lho. Untuk ketinggian gunungnya mencapai 2000-an Mdpl.

EMBUN ES (UPAS) YANG TAK KUNJUNG MUNCUL

foto by very barus

            Nyampe subuh hari, kami berharap bertemu dengan saju es. Apalagi ke datangan kami sangat tepat. Tepat lagi banyaknya pengguna sosmed memajang foto-foto mereka dengan latar belakang embun es. Juga foto-foto embun es secara close up. Maka, subuh harinya, kami pun berburu salju. Meski udara di Dieng super dupper dinginnya. Konon, di pagi hari, suhu di Dieng mencapai 02 -10 drajat. Bahkan mencapai pada titik terendah  suhu minus hingga 0 drajat. Disitu lah muncul embun yang membeku. Sedangkan siang hari suhu mencapai 12-20 drajat. Tidak heran perlengkapan baju penghangat tubuh berlapis-lapis sudah kami bekali. Tapi tetap saja menggigil. But, I love it!
Meski bagi para turis (traveler) embun e situ sesuatu yang fenomenal dan momen yang dinanti-nanti. Tapi, bagi para petani di Dieng, Embun Es itu merupakan racun bagi tanaman.

Why?

Karena, ternyata embun es atau yang sering di sebut bun Upas itu bisa merusak tanaman. Khususnya Tanaman kentang, kol dan tamanan khas kawasan Dieng lainnya. Oleh karena itu, para petani sudah memprediksi “hama” Bun Upas yang setiap tahunnya akan datang pada bulan Juli dan Agustus dan mereka pun sudah mewanti-wanti untuk mencegahnya.  


Ya, dilematis dong ya. Bagi kita pecinta traveling, momen embun es menjadi fenomenal dan indah jika di abadikan lewat kamera. Tapi, bagi para petani itu petaka. So sorry…

Di Hari pertama kami sudah gagal tidak bertemu embun es. Maka, kami pun berharap di hari kedua bisa bertemu si embune s tadi. Dengan berbesar hati kami menanyakan keberadaan si embun es pada warta setempat.
            “Biasanya sih ada. Soalnya beberapa waktu lalu masih ada kok. Tunggu saja..”
Hmm, nggak mungkin juga kami stay berhari-hari di Dieng hanya gara-gara pengen bertemu si embun es. Untuk mengisi waktu luang di siang hingga malam hari, kami pun menjelajahi objek-objek wisata di Dieng. Mulai dari Candi (candi Arjuna, Candi Gatot kaca, Museum, puncak Cikunir, Kawasan Sikidang, kuliner dan beberapa tempat lainnya.

TIKET MASUK
Beberapa objek wisata yang gue datangi bersama teman-teman, rata-rata memiliki tiket retribusi. Ya, harganya cukup merakyat lah. Jadi, kamu juga nggak perlu berpeluh keringat membawa uang sebanyak-banyaknya hanya untuk beli tiket masuk.

Berikut gambaran harga tiket untuk ke beberapa objek wisata yang didapat pada bulan Agustus kemaren.



SUNRISE SIKUNIR

            Jam 2 dini hari gue dan teman-teman sudah teng go dari Villa. Kami menembus gelapnya malam hanya gara-gara ingin melihat sunrise di Sukunir. Kalau soal dingin sudah nggak perlu ditanya lagi deh. Tangan sampai membeku kalau nggak pakai sarung tangan. Pokoknya baju yang dipakai berlapis-lapir. Tidak lupa kupluk dan sarung tangan. Jam 3 dini hari, kami sudah janjian dengan pemandu (yang sebenarnya nggak pelru banget pake pemadu) Hanya saja, gara-gara kasihan si pemandu menawarkan jasanya saat kami sedang makan siang di sebuah resto. Dia datang menawarkan diri untuk memandu ke puncak Sikunir. Karena kasihan, ya, nggak apa-apa deh. Hanya bayar Rp.100 ribu, itung-itung membantu.

Tiba di pelataran parkir, ternyata sudah banyak orang yang ingin melihat sunrise. Ya, mirip pasar deh. Tapi, seru aja sih rame-rame mendaki Sikunir untuk menunggu momen “golden” yang katanya ter the best sunrise. Meski menurut gue yang namanya sunrise dimana-mana tetap bagus. Nggak ada yang ter-ter-an deh. Semua harus dinikmati dan di Sikuri, Nggak perlu disbanding-bandingkan.


Puncak Sikunir memiliki tinggi sekitar 2263 mdpl, menurut gue sih tidak terlalu ngos-ngosan untuk menggapai puncak. Hanya saja, teman gue yang cewek cukup kerepotan menaiki step by step undakan menuju puncak. No problem. Menggapai puncak itu tidak perlu tergesa-gesa. Yang penting kebersamaan dan sama-sama menikmati momennya. Jangan egois pengen duluan nyampe. Akhirnya, gue dan kedua teman sama-sama menggapai puncak Sikunir. Sama-sama menikmati indahnya sunrise dan juga sama-sama menikmati momen-momen foto-foto berlatar belakang matahari terbit.

Awesome!


Dua hari berada di Dieng sebenarnya belum cukup. Hanya saja, short trip ini sudah membuat gue dan teman-teman terpuaskan. Bahkan, kami sempat juga makan durian di dekat alun-alun Dieng meski rasa durianya nano nano (asep, anyep, manis) tapi tetep saja di habisin. Hahhahahahha…

Kemudian, tidak lupa belanja oleh-oleh khas Dieng. Manisan Carica, Minuman Purwaceng yang konon katanya “Viagra” nya khas Dieng. Juga keripik kentang, keripik jamur. Kentang menjadi salah satu budidaya tanaman yang menjamur disana. Tidak heran kalau harga kentang cukup murah dan aneka panganan berbahan kentang pun banyak dijumpai disana.

Pengen ke Dieng?

Jangan nunggu tar sok tar sok… Langsung persiapkan dana anda juga ajak teman-teman terbaik anda. So, Enjoy your trip!







Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan

TERNYATA PIJAT ++