BELAJAR DARI KASUS RATNA SARUMPAET

foto: google



Mungkin, gue salah satu orang yang tidak mau ribet dengan urusan politik. Bahkan gue sangat mengharamkan diri gue ikut campur urusan politik. Terutama di akun-akun sosmed yang gue miliki. Karena, bagi gue Politik itu KEJAM! Tidak ada kawan tidak ada lawan. Dan Politik sangat Fleksible. SIapa saja bisa berpindah haluan sesuai kapasitasnya.

Oleh karena itu, gue memasang pagar untuk wilayah POLITIK juga AGAMA. Urusan agama, sudah lah.. itu urusan masing2 pada sang pencipta. Jangan sok menggurui dan jangan sok merasa yakin paling baik sedunia. Juga nggak usah merasa paling bener, paling suci dan paling memiliki surga. Elu baik sama orang juga peduli sama mahluk hidup lainnya mungkin bisa menjadi salah satu “tiket” untuk ke surga. Selebihnya anda yang tau…

Forget that!

Nah, disini, gue agak-agak tergelitik dengan kasus yang baru terjadi dan sangat meng-HEBOH-kan jagad raya Indonesia. Ya, heboh merebak berita kalau seorang aktivitis Rtana Sarumpaet, yang mulutnya sangat rajin berkoar-koar “membela” kebenaran. Juga aktivis perempuan senior yang setiap masa pasti muncul ke permukaan. Ya, lagi-lagi dengan sikap pemberaninya membela yang benar. We never know.

Apesnya…

Dua hari yang lalu, Ratna Sarumpaet seperti termakan oleh ulahnya sendiri. Dia menyebar berita bohong/fitnah yang sangat kejam ke orang-orang penting. Mereka percaya,lalu memblow up tanpa meng crosscek kebenaran berita tersebut. Mereka hanya percaya apa kata seorang RATNA. “dia tidak mungkin bohong. Dia benar2 dianiaya..” ujar salah satu pembelanya.


foto: Google

Di akun FB, Instagram, Twitter dan semua akun sosmed berbondong2 memasang foto wajah lebam Ratna plus kalimat2 yang merasa iba, prihatin, marah, nangis atas tindakan kekerasan yang di alamatkan ke Ratna. Bahkan, teman-teman gue juga ikut mengutuk. Sementara gue, saat membacanya saja sudah yakin ini tidak benar. Bahkan, Ratna sampai di gadang2 sebagai CUT NYAK DIEN masa kini, Kartini masa kini dan nama-nama pahlawan perempuan Indonesia ditasbihkan padanya.

Bayangkan, Kejadian dinyatakan tanggal 21 September, sementara dia baru berkoar2 tanggal 2 Oktober. Dengan alasan takut, diancam dan akan dibunuh. Waduh! Seorang Ratna setahu gue tidak punya rasa takut.  Siapa pun dilawan. Mungkin cuma sama Tuhan lah dia takut.
Lalu, kalau diruntut kisah kejadiannya, sangat impossible banget. Jadi, setelah kejadian 21 sampe 1 Oktober apakabar??? Dia kemana? Diam saja dengan wajah babak belur?

NO WAY!!!

Nah, dari rentetan kisah yang disampaikan sangat fiktif dan gue menjelaskan pada teman2..”Nggak usah marah2 dulu. Jgn ngutuk2 dulu. Calm man.. Tunggu saja kebenarannya pasti akan terungkap. Jangan semua berita yang diterima ditelan bulat2. Gunakan otak dan akal yang sehat. Baca baik2..”

Tapi, mereka tetap marah dan mengutuk.

Sampai Keesokan harinya, (3 Oktober) Setelah suasana semakin kisruh. Karena petinggi-petinggi berbondong2 mengeluarkan statement yang begitu marah. Lalu, Ratna pun keluar ke permukaan karena sudah terdesak. Dia memberikan statemen yang sangat sangat membuat orang yang sudah membelanya mati2an marah. Merasa di bohongi. Ya, Ratna telah menyebar berita BOHONG.

Nah….
Semua terdiam. Semua malu dan semua seakan dilempar taik ke wajah mereka. Bagaimana tidak? Setelah mati2an membela Ratna, eh, ternyata dia dengan lihai mengarang cerita bohong yang sangat meresahkan jutaan penduduk Indonesia. Apalagi era kampanye ini. Dan… pernyataan maaf Ratna jadi memblunder. Rasa malu sudah tidak terhitung lagi. Muka rasanya pengen diumpetin. Teman2 gue yang marah2 sama gue pun diam seribu Bahasa…

foto: google


INTINYA…

Terkadang, rasa benci bisa membuat akal sehat kita buntu. Dan tindakan bodoh muncul. Bagi gue membenci itu hal yang manusiawi. Gue juga pernah membenci. Bahkan sampai saat ini pun, gue masih membenci orang yang gue anggap telah menyakiti hati gue. Nah, gue membenci ada alasan yang personal dan karena ada sebab akibat.
Tapi, sekarang ini, banyak orang membenci hanya sekedar ikut-ikutan. Parahnya lagi, banyak orang membenci orang yang sama sekali tidak dikenal secara personal. Karena lingkungan membenci, supaya adil dan supaya dianggap sama, maka dia pun ikut membenci. Ikut termakan hasutan dan ikut menyebar kebencian…

Come on guys…

Membenci lah pada takarannya dan pada sasarannya. Kalau sudah kena sasaran yang tepat, saat kita lelah membenci, kita bisa minta maaf pada sasaran tersebut. Rasa benci tuntas. Tapi, kalau membenci secara berjamaah, apa itu tidak dosa? Rasa benci bisa bikin kita bodoh sebenarnya. Ya, melakukan hal-hal bodoh dan mengikuti yang bodoh juga.

Tapi, syukurlah, meski gue membenci seseorang, gue tidak butuh membeberkan keburukan-keburukannya. Karena setiap orang punya sisi baik dan buruk. Jangan keburukan saja yang kita ingat, sisi baiknya juga perlu kita ingat agar rasa benci tidak mengakar dan tidak beranak pinak.  

LIHAT…

Apa yang dilakukan Ratna, itu tidak hanya merugikan dirinya sendiri, melainkan banyak orang. Mulai dari orang2 terdekat (keluarga, anak, cucuk, teman2, kerabat hingga orang2 yang sudah membelanya). Dan satu hal, pesan moral yang perlu kita ingat. Kepercayaan itu mahal harganya. Sekali kita melangar kepercayaan, jangan harap orang bisa percaya lagi pada Anda. Oleh karena itu, jaga dan peganglah kepercayaan itu erat-erat. Jangan sampai anda menodainya. Karena akan merugikan diri anda sendiri.

INGAT! BENCI BOLEH, BODOH JANGAN…



Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan