REVIEW FILM: ARUNA & LIDAHNYA FILM LAYAR LEBAR “RASA” VLOG

foto: Google

Entah kenapa, ketika menonton film Aruna & Lidahnya, gue sepertinya sedang menonton vlog dari para vlogger yang doyan traveling dan kuliner. Ekspektasi gue akan film yang di bintangi Dian Sastro, Nicolas Sahputra, Okan Antara dan Hannah Al Rashid mungkin terlalu tinggi. Gue membayangkan film ini menayangkan kuliner nusantara dengan tampilan yang Sedapppppp banget dipandang mata. Tapi, realitanya, saat menyaksikan adegan demi adegan kuliner kok kayak amatiran. Saat mengolah makanan dan juga cara penyajiannya juga nggak beda jauh dengan vlog-vlog yang  gue tonton di yutub. Bahkan, banyak vlogger yang khusus kuliner menyajikan vlog mereka jauh lebih baik saat mengolah makanan dan penyajian lebih menarik dan bisa bikin kita ngiler.

Jadi, ekspektasi memang terkadang suka melenceng dari realita. Namun, meski melenceng, namun gue tetap menikmati kok film ini. Menikmati menu-menu makanan yang dicicipi para pemain. Meski, lagi-lagi gue kurang GREGET melihat saat adegan makanan yang di olah atau saat disajikan. Kok kesannya kurang referensi banget untuk menyajikan tayangan kuliner yang NYESSS! Mungkin lebih keren tayangan kuliner yang ditayangkan di NET TV. Asli keren!

Selain itu, alur cerita film ini terasa kurang nyambung dengan tema inti film itu sendiri. Mengangkat isu Flu Burung yang endingnya ketahuan salah satu petingginya korupsi dengan mengangkat isu tersebut. Man!!! Gue sempat ngangak mulut sesaat. Emang nggak ada tema lain yang bisa diangkat yang bisa terkoneksi dengan kuliner ala Aruna and the genk? Trus, masalah Cinta Lama yang terpendam yang begitu sulit diungkapkan. Juga tentang gaya hidup yang mengarah seks bebas dan selingkuh itu lumrah dilakukan di jaman ini.

Tapi, ya sudah lah.. gak perlu ngasih ide atau gagasan kalau “menunya” sudah jadi. Kita sebagai penonton hanya bisa menikmati dan “mencicipi” menu yang disajikan.  Kalau suka syukur, kalau nggak suka ya harus dinikmati. Kira-kira begitulah…

foto: google


Dan, Jujur, gue nonton film ini juga bukan karena pemainnya. Gue bukan penggila Dian dan Nico. Tapi, entah kenapa kehadiran Hannah dan Okan justru bikin film ini “bernyawa”. Kalau ngandalin Nico dan Dian, jujur saja deh, mereka masih belum bisa lari dari wajah Rangga dan Cinta. Belum!  Mungkin mereka tertalu totalitas di film yang mengangkat nama mereka sehingga image-nya begitu kuat melekat. Sehingga beberapa film yang dibintangi Dian dan Nico aktingnya masih belum bisa “keluar” 100% dari image terdahulu. Sayang ya, kerja keras mereka untuk melepas image itu sangat susah. Sehingga apa pun yang mereka perankan, sosok Cinta dan Rangga masih ngekor.

Sedangkan Nat atau Hannah. Mungkin ini film pertama dia yang gue tonton. Padahal banyak film dia yang sudah beredar.. Eh, nggak ding. Ini film kedua atau ketiga (gue lupa). Dan, jujur, gue jatuh cinta sama acting Hannah. Dia acting kayak nggak acting. Setiap dialog yang dia keluarkan, seperti muncul dari dalam dirinya. Sehingga gue melihat Hannah kayak Merian Bellina pada masa mudanya. Segala peran yang dimainkan Meriam Bellina bisa pas dan bisa lepas dari karakter film yang dia mainkan sebelumnya. Begitu juga Hannah. Salut gue. Dan sepertinya gue jadi ngefans sama dia.

Jadi, kalau ditanya, apakah gue puas nonton film ini? Jujur gue jawab:
Kalau dari segi cerita tidak puas.
Kalau dari segi cinematografi juga tidak. Masih kayak nonton vlogger.
Kalau dari segi pemain Ya, lumayan lah.
Kalau dari segi sajian kuliner GUE SUKA! Suka karena banyaknya aneka jenis makanan yang pengen gue coba.
Kalau dari keseluruhan? Ya, masih enak lah untuk di tonton tapi kurang puas.

Ya, namanya juga nonton filmkuliner. Kita mencicipi menu yang dihidangkan. Puas tidak puas tinggal komen. 


Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan