REVIEW FILM: MENUNGGU PAGI



Sebelum menonton film Menunggu Pagi, gue sempat membaca sekilas “dibalik” kisah pembuatan film ini. Khususnya sang sutradara Teddy Soeriatmadja, yang konon katanya, akhirnya Teddy kembali kembali berkiprah di layar lebar setelah dia vakum selama 5 tahun. dan Teddy  menyutradarai film ini karena terinsipirasi dengan ajang bergensing anak gaul ibukota yaitu DWP.  Sebelumnya Teddy  pernah menyutradarai beberapa film layar lebar yang cukup punya gaung. Sebut saja film Banyu Biru (2006), Roemah Maida (2009), Lovely Man (2011) dan Something In The Way (2013).

Kalau dilihat dari deretan film-film tersebut, kemahiran Teddy untuk nge-direct film bukan hal baru lagi. dan tentu dia akan menelurkan karya yang tidak kalah keren dari film-film sebelumnya. Dia sudah faham mana yang bisa ditojolkan pada karyanya.  Maka, muncul film Menunggu Pagi yang mana naskah dan penyutradaraan di pegang langsung oleh Teddy.

Lalu, bergegaslah gue ke bioskop…

Percaya atau tidak, saat menonton film ini, yang ada di dalam bioskop hanya gue sendiri. Sumpah! Ini pengalaman pertama seumur hidup gue, nonton film seorang diri (maksud hati biar focus nyimak filmnya). Eh, ternyata saat beli tiket, si pejual tiket menanyakan posisi duduk yang mana gue pilih. Dan, gue kaget donggg, karena semua bangku masih kosong. Gue piker, apakah gue kecepatan beli tiket atau memang belum ada peminat.
            “Kok belum ada penonton mbak?”
            “Iya, masih kosong.”
Gue masih positif thinking. Mungkin karena ini hari pertama film diputar jadi, penonton masih belum ngeh. Sementara di studio sebelah antrian sangat panjang (Film Asih, Venom dan beberapa film lainnya).

Hingga lampu bioskop dipadakan dan iklan mulai bermunculan di layar, gue masih seorang diri di dalam bioskop. Mungkin kalo film yang gue tonton film horror, gue memilih keluar ketimbang nonton seorang diri. Kali aja ada tangan yang muncul disebelah kursi gue. Hiiikkkkk!!!!

Dan, gue memecahkan record nonton film Menunggu Pagi seorang diri di dalam bioskop.Antara keder dan penasaran. Gue pun pasrah dikesendirian menyimak film berjalan.



Film dimulai dengan munculnya sosok Martin (Mario Lawalata) yang berperan sebagai seorang DJ plus bandar narkoba. Di opening gue sudah suka nih dengan film ini. Mario nge DJ di sebuah klub. Kemudian mauk ke dalam toilet neghirup serbuk putih. Lalu, didatangi si bos bandar dan Martin disekap dengan cara kepalanya dimasukin ke dalam kloset.

Opening yang sudah membuat gue semangat untuk nonton.

Hingga film bergulir, muncul Sarah (Aureli) kekasih Martin memergokin martin dnegan cewek lain sedang asyik masyik di kamar mandi. Lalu berlanjut berlanjut hingga scene berganti ke scene berikutnya.

Nah, pada scene ini, gue mulai drop. 3 anak muda yang dimainkan Bio One dan kawan-kawan. Gue merasa ketiga orang ini bukan menjadi bumbu penyedap film melainkan perusak suasana. ENtah alasan apa sang sutradara memilih ketiga ini masuk ke dalam cerita. Karena, sejak kemunculan ketiganya, dialog-dialog mereka itu “kering” guyonan garing, kata-kata vulgar yang dilontarkan juga nggak pas. Seolah-olah pengen nunjukkin kalau anak muda itu ya begini. (Pergi ke massage plus-plus minta di hand job atau apalah..) trus, dialog mereka itu seakan-akan pengen mempertegas kalau mereka sudah melakukan ini dan itu.

Belum lagi, saat mereka hendak pergi ke DWP (Djakarta Warehouse Project). Kalau dihitung-hitung ada puluhan kali mereka mengucapkan kata DWP. Kok terkesan DWP itu pesan sponsor banget. Kalau nggak disebutin bisa fatal. Bagi gue, untuk menujukkan kita akan pergi ke sebuah tempat, rasanya cukup satu kali saja dialog yang terucap. Selebihnya bisa saja melalui visual. Misalkan, ada poster DWP, atau ada terlihat tiket DWP. Selebihnya nggak perlu diucapkan berkali-kali. Jatohnya norak.

Belum lagi setting lokasi yang dilakukan seolah-olah “paket hemat”. Saat di toko penjual vinil second bertemu dengan ketiga teman “garing”nya. Kemudian, Sarah berantem dengan Martin. Sarah bertemu dengan Bayu, si penjual vinil. Martin melihat Sarah sedang mendengarkan musik dengan Bayu.

Sebelum ke DWP mampir ke rumah makan Padang. What?! Gue yang beberapa kali ke ajang DWP, kayaknya nggak harus makan di rumah makan padang deh. Banyak fastfood-fastfood bertebaran. Ini, pengen mengangkat cerita berlatar belakang ajang musik bergengsi yang didatangi orang-orang keren tapi mentok-mentoknya makan di rumah makan padang. Ini lapar berat atau pengen mengganjal perut? (bukan mengatakan rumah makan padang nggak oke lho. Tapi kok rasanya kurang pas gitu lho. Mau dugem tapi makan dulu di rumah makan padang).

Lalu, si Bio one saat sedang “on” asli ini acting paling kacrut yang gue lihat. Kenapa lagi harus si bio one yang memerankan ini? Sangat tidak cocok. Pengen terkesan gaul tapi jatohnya lagi-lagi norak dan maksa. Banyak adegan-adegan yang pengen dibuat konyol tapi gagal.

Hingga akhirnya, cerita berlanjut sampai mereka masuk ke sebuah klub. Ngapain juga mereka masuk ke klub? Hanya gara2 si Bio one lagi ON? Bukannya mereka juga mau ke event DWP? Ya sekalin saja kesana. Ini malah muter sana sini pengen menambah konflik yang sangat maksa.

Sangkin garingnya, gue pengen keluar dan meninggalkan bioskop. Karena ceritanya sangat tidak enak untuk diikuti. Tapi, gue menahan ego untuk tetap stay di dalam bioskop. Karena, kalo gue keluar tentu gue nggak bisa membuat review film ini.



Hingga akirnya, film ini pun kelar…

Gue pun menarik nafas lega… lega bukan karena puas tapi lega karena akhirnya selesai juga film ini. Dan, gue pun keluar dengan seribu pertanyaan di dada. Kok bisa film yang mengusung thema dunia ajep-ajep tapi dikemas dengan cara seperti ini. Ibarat, anak Bekasi pengen dugem di kawasan Jakarta Selatan. Mereka yang nggak pernah dugem menemukan hal-hal baru yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mungkin seperti itulah gambaran dari ketiga karakter garing yang bikin film ini sukses membuat gue kecewa.

Mungkin, untuk sang sutradara plus penulis scenario, jeda waktu 5 tahun vakum ternyata belum mampu mempertajam insting anda. Butuh vakum 5 tahun lagi kayaknya agar bisa lebih tajam lagi dan bisa menelurkan karya yang lebih bagus lagi.  

Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan

TERNYATA PIJAT ++