OBROLAN DI WARUNG KOPI DAN COFFEE SHOP (PART 1)

foto taken from: google image
Sebenarnya, tidak ada ada perbedaan antara warung kopi dan coffee shop atau café. Hanya bahasanya dan pengucapannya saja yang berbeda, sedangkan artinya sama yaitu sama-sama tempat minum kopi. Selain beda kata dan pengucapan, mungkin juga beda lokasi dan harga kopi yang dijual. Biasanya, coffee shop atau kafe berada di mall-mall atau pertokoan elit atau juga dikawasan yang lebih berkelas. Sehingga mereka pun membandrol harga kopi cukup fantastis. Kalau kedai kopi rada-rada keberadaan mereka di kota-kota kecil. Bentuknya sederhana dan hidangannya juga tidak neko-neko. Karena, pembeli tau tujuan mereka datang ke kedai bukan untuk melihat gaya tapi rasa.

Kali ini aku pengen ngebahas soal nongkrong sambal ngobrol di coffee shop dan di warung kopi. Dan ini merupakan pengalaman yang selama ini sering aku alami dan juga mungkin kamu juga pernah mengalaminya.



Untuk part 1 ini, aku akan ngebahas soal nongkrong dan ngobrol di coffee shop alias kafe. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia seni (penulis/fotografer/videographer dll),  coffee shop sering dipakai untuk meeting point. Ya, meeting bersama klien, meeting bersama teman atau juga sama kerabat. Alasannya mungkin sederhana.lokasinya tidak jauh dan memilih tempat meeting ditengah kota ketimbang harus berjibaku dengan macet menuju rumah atau kantor kerabat.

Tapi, sebelum berangkat ke lokasi, tentu banyak “printilan-printilan” yang harus dipersiapkan. Aku merencanakan, akan mengenakan pakaian apa? Bahkan, dari unjung rambut sampai ujung kaki pun wajib diperhatikan. Misalkan, aku ingin pakai celana jeans, harus disesuaikan dengan kemeja atau kaos yang akan dipakai. Lalu, sepatu apa yang pas, jam tangan hingga pewangi tubuh apa yang aromanya segar tidak menusuk hidung. Kadang-kadang, penampilan sering menjadi prioritas utama yang diperhatikan ketimbang “tujuan utama” pertemuan. Bahkan, aku pernah datang dengan penampilan seadanya, eh, langsung menjadi  trending topic dikalangan mereka. Aku dianggap tidak menjaga penampilan, tidak menghargai pertemuan dan juga nggak malu dengan penampilan yang begitu. Padahal menurut aku apa yang aku pakai saat itu masih dalam batas normal atau wajar. Tidak ada yang aneh atau merugikan mereka. Tapi, Ampun dah! Semua terlalu repot mengurus penampilan orang.  Bagi mereka penampilan menjadi point of view yang begitu penting.

Hal yang sering terjadi saat pertemuan berlangsung dengan orang-orang yang suka nongkrong di kafe adalah
”Lu baju baru ya? Merek apa?”
atau, “Lu hape baru ya? Iphone/Samsung seri apa?”
atau, “Celana baru ya? Merek apa?”
atau,”Aroma parfume lo enak banget! Merek apa?”
pokoknya semua apa yang terlihat mata seperti wajab untuk dikupas tuntas. Jika ada yang dianggap “receh” hmmm, mata mulai melirik dengan sinis. Wadoowww!!!

Begitu juga dengan yang lain, saling memperlihatkan benda baru apa yang mereka miliki. Bahkan tidak sungkan-sungkan menyebutkan merek serta harganya. “Ini limited edition, lho. Harganya Sekian puluh juta.” Katanya. Seakan tidak mau kalah, yang lain juga menyebutkan brand-brand yang menempel di tubuh mereka. Pokoknya mirip etalase brand berjalan deh.
Sepertinya semua butuh pengakuan dan pujian.

Usai saling memperkenalkan “benda” baru yang dipunya, kemudian saling selfie, foto makanan, foto minuman yang disorder, lalu posting di sosmed. Kemudian, foto bersama dan posting juga di sosmed sambal mencenteng location keberadaan saat itu.

Setelah itu, senyappppp……



Masing-masing sudah sibuk dengan gadget-nya. Sibuk memantengi timeline sosmed cekakak cekikik sendiri sambal mata terus focus di layar smartphone. Tidak jarang pertemuan yang dianggap ajang temu kangen menjadi basi dan garing. Tidak ada ketulusan dalam pertemuan. Mereka lebih tulus dengan smartphone mereka. Kalau pun ada obrolan itu hanya pelengkap semata dan juga basa-basi yang tidak terlalu penting. Bahkan saat ngobrol, mata mereka tetap focus di smartphone. Duhh, cinta mati dengan layar hape atau dengan sosmed?

Jadi, sesungguhnya, keakraban itu lebih erat terjalin di dunia maya ketimbang dunia nyata. Kalau di dunia maya, kalimat-kalimat “fake care” sangat mengalun dengan manisnya. “Miss you.. meet up yukk. Kapan nih ketemuan? Ngopi-ngopi di kafe bla-bla-bla yukk.” Karena merasa sama-sama sibuk, semua planning sebatas wacana. Dan, kalau pun akhirnya bertemu, rasa kangen hanya terpancar tidak lebih dari 5 hingga 10 menit. Selebihnya back to reality. Back to sosmed addict.   

Begitu juga kalau meeting dengan klien. Yang sering terjadi beda tipis dnegan meet up dengan teman-teman. Topik utama yang dibahas hanya setengah hingga 1 jam saja. Selebihnya membahas impian-impian yang menurut aku terlalu tinggi. Atau istilahnya khayalan babu-babu yang menghayal hingga melambung begitu tinggi. Sehingga untuk meraihnya kembali sangat sulit. Tidak ada pembahasan yang straight to the point.

Pernah beberapa kali meeting membahas project yang akan dikerjakan, rekan meeting menuangkan ide masing-masing, kemudian ide tersebut akan dikolaborasikan dengan ide setiap rekan meeting. Sepertinya ide-ide tersebut begitu brilliant dengan hitungan bujet yang juga fantastis. Tapi, seminggu, sebulan dua bulan setelah meeting belum juga menemukan realisasi. Semua masih sebatas impian yang entah kapan bisa diwujudkan.  

Saat kembali ke rumah, sering berfikir, kenapa tidak ada hasil dari pertemuan tersebut. Dalam arti meeting yang benar-benar memiliki makna, baik dari segi penghasilan juga pekerjaan. Justru kebanyakan orang yang nongkrong di coffee shop hanya membahas hal-hal yang tidak terlalu penting dan lebih mengedepankan penampilan daripada isi kantong. Ya, meski ada juga sih, yang nongkrong di kafe membahas bisnis yang menjanjikan. Namun, lagi-lagi, datang ke coffee shop lebih mengedepankan penampilan dari pada tujuan meeting itu sendiri.

Bagaimana dengan Meeting di Warung kopi?

Tunggu kelanjutan kisah ini.




Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan

TERNYATA PIJAT ++