OBROLAN DI WARUNG KOPI PART 2





Sudah hampir dua pekan ini aku berada di sebuah kota kecil di Rantauprapat. Kota yang dikenal dengan kawasan perkebunan Kelapa Sawit. Kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan gemerlap, hedonis dan juga gegap gempita tehnologi dan kecanggihan elektronik.  Semua terlihat sederhana dan tampak apa adanya.

Tapi….

Siapa sangka dibalik semua itu, tersimpan rahasia yang membuat aku terdiam bodoh. Ya, aku yang merasa sudah lama tinggal di ibukota dan bertemu dengan orang-orang yang lebih memprioritaskan penampilan ketimbang isi kantong.

Beberapa kali aku harus bertemu dengan orang-orang yang bekerja di perkebunan Sawit dan yang faham akan naik turunnya harga sawit, juga tentang apa pun yang berhubungan dengan kebun. Rata-rata ngajak meet up di warung-warung kopi tanpa bandrol internasional. Warung kopi biasa yang tidak mengenal embel-embel kemewahan.

“Kita ketemu di warung kopi yang dekat kebun saja.” ujar  kerabat.  Aku pun menyanggupinya. Tapi, seperti biasa, sebelum pergi bertemu dengan kerabat tersebut, aku sudah mempersiapkan diri dengan penampilan yang rapih, bersih dan wangi. Tiak ketinggalan memperhatikan penampilan dari atas hingga bawah. Jika sebelumnya, setiap janjian sama rekan bisnis, teman dan juga kerabat, biasanya meet up dilakukan di sebuah kafe waralaba yang ada di mall-mall mewah. Kisahnya bisa dibaca disini:

Lalu, aku pun pergi ke warung kopi yang dijanjikan.



Tiba di warung kopi, aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Hampir semua pengunjung warung kopi tampail apa adanya. Bahkan ada yang hanya pakai kaos dalam, celana pendek dan sandal swallow yang sudah sedikit usang. Ada juga yang datang tanpa pakai baju tapi bajunya hanya digenggam saja. “Panas” katanya. Wajar karena warung kopi itu tidak pakai AC. Hanya ada Angin Cepaoi-Cepoi. Meski ada juga yang mengenakan pakaian rapi lengkap dengan sepatunya. Ternyata dia seorang pegawai negeri yang merangkap juragan sawit.



Di halaman parkir pun hanya terparkir motor-motor matic tanpa mengenak merk dan kelasnya. Mereka memang tidak peduli dengan merk juga gaya hidup.  Mereka begitu asyik ngobrol satu sama lain. Semua hape tergeletak di atas meja. Dan rata-rata hape mereka model jadul yang bukan smartphone. Rata-rata hape yang tergeletak merk Nokia seri lama. Dalam hati aku berfikir, pantes saja kalau menghubungi mereka tidak pernah bisa pakai whatup, harus pakai sms atau telepon langsung. Ternyata hape mereka pun ala kadarnya.


            “Buat apa hape-hape mahal dan canggih? Kalau mau ngobrol mending ketemu langsung bisa ngobrol pua sface to face. Kalau bicara pake hape nggak puas.” Ujarnya. “Lagian, Kita nggak bisa menggunakannya.” Lanjutnya sambal memamerkan hape jadulnya.

Kehadiranku tidak mengusik obrolan mereka. Kebetulan, orang yang aku tunggu masih dalam perjalanan ke warung kopi itu. Telinga ini pun mendengarkan obrolan para pengunjung warung sambal pura-pura mainin smartphone.


Alangkah kagetnya aku ketika masing-masing membahas soal rencana beli kebun sawit, menambah kebun sawit atau juga soal uang mereka yang jumlahnya bikin kaget. Mereka bukan bicara tentang uang satu juta atau dua jutaan, melainkan Milyaran. Angka tertinggi nominalnya ratusan juta. Busyet!!!! Aku yang penampilan “kota” mungkin uang ditabungan tidak tembus ke angka milyaran. Boro-boro!
            “Ada kebun sawit mau dijual 20 hektar, penjualnya jual hargamurah. Satu hektarnya Rp.100 juta. Jadi kalau 20 hektar dia buka harga 2 milyar.”
            “Wah, sudah murah tuh. Pasaran, kebon sawit kalau sudah berbuah bagus sekitar Rp.200 juta/hektar. Ambil saja!”
            “Tapi uangku cuma ada 1 M 800 juta. Makanya mau ditawar lagi. Kira-kira mau nggak dia?”
            “Pasi mau lah, apalagi jual BU alias butuh uang.”



Obrolan mereka begitu serius dan tampak asyik sambal minum the manis dank pi. Kaki diangkat satu ke kursi layaknya orang ngobrol di warung kopi. Satu persatu kuperhatikan penampilan mereka sambal senyum-senyum sendiri. Aku yakin, mungkin jika melihat penampilannya, orang akan mengira mereka tukang becak atau pengangguran yang kere. Ternyata masing-masing dari mereka sudah memiliki kebun sawit diatas 50 hektar.

            “Tapi harga sawit sekarang lagi turun ya. MAsak, kebunku yang 30 hektar hasilnya tidak sapai sekian ton..”
            “Ya, memang begitu. Kebonku yang 10 hektar beda hasilnya dengan kebunku yang lain 10 hektar lagi. Beda lokasi beda hasil.” Ujar yang lain.

Beberapa saat kemudian, orang yang aku tunggu-tunggu tiba. Seorang perempuan paruh baya dengan penampilan yang lagi-lagi sangat biasa-biasa saja. Hanya saja, di lehernya berjuntai kalung emas yang kelihatan cukup berat. DItangannya bergantung gelang emas hingga ebberapa buah. Cincin emas melingkar di dua jarinya. Ya, layaknya penampilan orang daerah yang banyak duit tapi penampilan biasa-biasa saja.
            “Jadi beginilah, aku cuma bawa uang Rp. 500 juta. Kalau jadi kebon sodaramu mau dijual, peganglah dulu uang ini. Sisanya nanti aku ambil di bank.”


Serasa menelan biji kedondong, leherku tiba-tiba sakit mendengar obrolan to the point permepuan paruh baya itu sambal mengeluarkan uang segepok dari tas-nya yang tidak ada mereknya. Mungkin ta situ dibandrol dengan harga Rp. 100 ribu saja. Kalau pun ada merk, pasti tidak terdaftar di daftar merek terkemuka.


            Setelah hampir dua jam nongkrong di warung kopi dan asyik mendengar obrolan para pengunjung warung kopi, akhirnya aku pun bisa menyimpulkan kalau berada di dua “warung kopi” yang berbeda, kita bisa melihat perbedaan yang real diantara para pengunjung warung kopi. Perbedaan antara di desa dan di kota. Kota memang menjanjikan “kemilau” tapi belum tentu kemilau itu benar-benar menyilaukan mata, melainkan kepalsuan. Sedangkan di desa, sering dianggap tidak menjanjikan apa-apa, namun sesungguhnya disanalah sumber kemilauan yang real.

Sekarang, semua tergantung anda, mau memilih warung kopi mana yang ingin anda datangi. Yang berlabel “coffee shop” atau “warung kopi” biasa. Karena, anda sendiri yang tau isi kantong Anda.

Sampai kapan Anda ingin memuaskan hati orang lain sementara hati anda sendiri menjerit?





Comments

Popular posts from this blog

10 Pantai Indah Yang Wajib diKunjungi Saat Ke Sulawesi Selatan